Kegundahan Sang Raja Muda

Kabar mengenai peristiwa di Medan Khayali dan tentang Paduka Pancagah yang kini bergelar Perkasa Alam tersebar dengan cepat keseluruh penjuru negeri. Rakyat banyak yang membicarakan kehebatan Pancagah mengalahkan penghulu kuda orang Portugis. Para Orang kaya juga turut membicarakan ini. Ada yang terkagum-kagum, tapi banyak juga yang mencemooh. Mereka mengatakan bahwa kejadian itu hanyalah sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Berita itu pun sampailah ketelinga Tuanku Raja Ali yang bergelar Paduka Raja Muda, putra sulung Sultan Alaudin Ri’ayat Syah dan adiknya Tuanku Raja Ibrahim yang bergelar Paduka Raja Bongsu. Keduanya tinggal di seberang Sungai Aceh, di Istana Darul Kamal, tempat para raja Darul Kamal dahulu tinggal. Istana Darul Kamal juga dijadikan tempat kediaman para Raja Muda atau pewaris tahta kerajaan.

“Ini benar-benar keterlaluan!” Ujar Raja Muda marah. “Bagaimana mungkin ayah menyuruh Pancagah menaklukan kuda itu? Sementara ia mengetahui bahwa aku adalah penunggang kuda nomer satu di negeri ini!”

“Kurasa ayah sudah terlalu tua. Ia sudah tak mampu lagi berpikir jernih. Dan pasti, aku yakin, ada orang yang membisikinya untuk memanggil Pancagah.” Balas adiknya, Raja Bongsu.

“Hm. Sekarang ia ingin membuat kita memanggil Pancagah dengan Perkasa Alam! Lalu apa selanjutnya? Menjadikannya Raja Muda? Menggantikan kedudukanku di Darul Kamal? Sungguh terlalu!”

“Abangta, kita harus melakukan sesuatu. Sebelum semuanya terlambat. Kita tak mungkin membiarkan Pancagah mengambil apa yang menjadi hak kita. Sesungguhnya dia tidak berhak berada di Aceh, suruhlah dia kembali ke Makota Alam. Biar dia bertahta di Kerajaan ayahnya.” Raja Bongsu member usulan.

Raja Muda berjalan mondar mandir. Wajahnya yang mulai menua berkerut-kerut memikirkan sesuatu. Lalu ia duduk di atas singgasananya sambil berkata,

“Perkara ini tidak akan mudah. Ayah kita sungguh mengasihi putra Mansur Syah itu. Di tambah lagi kakak kita Putri Indra Bangsa memiliki pengaruh sangat kuat dikalangan istana. Aku khawatir, kita tidak punya cukup kekuatan untuk menyingkirkan putranya.”

Tiba-tiba sesosok perempuan setengah baya masuk ke ruangan itu. Gelang-gelangnya berkelontangan menimbulkan suara gaduh. Tubuhnya tinggi semampai dan jalannya tegap seperti lelaki. Rambutnya putih, dan giginya menghitam karena sirih. Matanya hitam dan dalam, menyimpan tanda-tanda yang sulit diartikan. Ia tersenyum penuh arti.

“Duhai putra-putra Syah Alam. Sungguh kalian ini terlalu bodoh ingin menyingkirkan Pancagah..” Katanya seraya mendekati Raja Muda.

Raja Muda dan Raja Bongsu kaget dan pucat pasi. Raja Muda segera bangkit dari singgasananya, kemudian menyentuh kaki perempuan tadi diikuti pula oleh Raja Bongsu. Perempuan tua itu kini duduk di singgasana.

“Ampun Tuanku, apakah yang Tuanku Putri Raja Laila maksudkan?”

Sang Putri tertawa, dan terlihatlah giginya yang hitam. Kemudian ia meludah ke tempat sirih emas yang ada di dekatnya, membuang sisa-sisa sirih yang dikunyahnya.

“Kalian tidak akan bisa menyingkirkan Pancagah. Kalian pun tau bahwa dia adalah keturunan Mahkota Alam dan Darul Kamal sekaligus. Siapa yang lebih berhak mewarisi tahta daripada dia?” ia berhenti sebentar, memasukan sirih lagi ke mulutnya. “kalian pun ada disana ketika ayahnya, Mansur Syah, menolak mahkota untuk menghormati ayah kalian. Tentu abangtaku itu merasa berhutang budi luar biasa pada bocah itu.”

Kedua kakak beradik itu saling beradu pandang.

“Tapi Tuanku, hamba adalah Raja Muda! Sudah sepantasnyalah hamba yang menggantikan ayah.”

“Tentu saja, tetapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi. Ayah kalian tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Putri Indra Bangsa juga tidak akan membiarkan itu terjadi.” Jawabnya cepat.

Telah menjadi lazim di Aceh bilamana seorang Raja Muda tidak serta merta menjadi sultan, ketika ayahnya mangkat. Dewan Kerajaan yang terdiri dari Ulee Balang Pheut yang besar itulah yang menentukan berdasarkan banyak hal. Dari akhlaknya, perilakunya semasa kecil hingga dewasa, ilmu pengetahuannya serta kemampuannya dalam peperangan.

Kedua abang adik itu sebetulnya telah memenuhi semua persyaratan itu. Sedari kecil mereka telah berguru kepada ulama-ulama terkenal yang datang dari Mekkah, Persia dan Gujarat. Perilaku mereka baik dan berwibawa seperti anak-anak raja, dan mereka adalah panglima-panglima perang yang handal. Merekalah yang menaklukan pemberontakan di Pasai, Pedir dan Peurelak. Para Orang Kaya pun segan terhadap mereka. Namun demikian, semuanya berubah ketika Mansur Syah menikah dengan kakak sulung mereka, Putri Indra Bangsa. Mansur Syah, putra Raja Makota Alam yang maha mulia itu pun menyerahkan haknya untuk menjadi Sultan Aceh, untuk menghormati ayah mertuanya sepeninggal Sultan Zainal Abidin. Sehingga ayah mereka berhutang budi begitu besarnya, dan telah menentukan bahwa Mansurlah yang akan meneruskan tahtanya.

Raja Muda dan Raja Bongsu tidak menyukai kehadiran Mansur Syah. Karena ayah mereka sangat mengasihi menantunya tersebut. Mansur Syah diberikan banyak kepercayaan untuk melakukan banyak tugas-tugas kenegaraan. Bahkan oleh Sultan Alaudin, Mansur Syah diundang untuk tinggal di Istana Darud Dunya bersama isterinya Putri Raja Indra Bangsa.

Bukan hanya kepada Mansur Syah, tetapi kepada putranya Pancagah yang masih kecil, Sultan tua itu amatlah sayang. Waktu usianya tiga tahun diberikannya kuda-kudaan dari emas bertabur batu delima. Pada ulang tahunnya yang kelima dihadiahkannya seekor anak gajah untuk cucunya itu bermain. Sultan Alaudin bahkan sering mengajak Pancagah kecil untuk tidur di peraduannya.

Ketika Mansur Syah mangkat di Ghuri, rasa cinta Sultan Alaudin semakin bertambah kepada cucunya itu. Walaupun cucu Baginda itu banyak sekali tetapi hanya Pancagah yang paling disayang. Untuk menghibur hati Pancagah yang kala itu berusia 7 tahun, Sultan mengajak Pancagah untuk berburu gajah di hutan. Pancagah diajarkan untuk menaklukan gajah-gajah besar yang liar. Selain itu, Pancagah juga sering diajak kakeknya untuk menerima kunjungan utusan-utusan asing yang datang. Melihat hadiah yang indah-indah yang diberikan tamu-tamu kakeknya. Tak jarang Sultan memberikan salah satu hadiah itu kepada cucunya.

Kedekatan kakek dan cucu ini membuat putra-putra Syah Alam menjadi gerah. Putra Syah Alam khawatir bahwa ayah mereka akan memberikan tahta kerajaan pada Pancagah. Padahal semenjak kematian Mansur Syah, maka tidak ada halangan lagi bagi Raja Muda untuk bertahta saat ayahnya kelak mangkat. Namun kini, halangan itu kembali muncul.

“Lalu apa yang harus hamba perbuat, duli Tuanku?” Tanya Raja Muda kepada saudara perempuan ayahnya itu.

“Jika kau memang ingin menjadi Sultan, siapkanlah pasukanmu. Kepung Istana Dalam. Tangkap dan asingkan siapa saja yang melawan, termasuk ayahmu, bila perlu.” Jawabnya berbisik.

Raja Muda dan Raja Bongsu terhenyak mendengar usulan itu. Bulu kuduknya berdiri, ketakutan membayangkan penyerangan terhadap istana ayahnya sendiri.

“Ma..maksud Tuan, hamba harus memberontak pada ayahanda Sultan?” Tanya Raja Bongsu takut.

Putri Raja Keumala Cahya meludah. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan sutra berwarna kuning. Disapunya bibirnya yang kemerahan karena sirih. Seketika sapu tangan itu menjadi merah seakan terkena darah. Sang Putri bangkit dari duduknya. Ia diam, tak menjawab pertanyaan kemenakannya. Lalu berjalan menjauh. Di ambang pintu, putri itu menengok kebelakang. Kedua kemenakannya masih ketakutan. Lalu ia berkata,

“Ingatkah kau bahwa ayahmu telah membunuh saudara-saudaranya supaya tahtanya selamat? Jika kau ingin menjadi besar, maka lakukan hal besar. Kalau kau bertindak bagai pengecut seperti ini, akan tanggalkan meukutob itu, gantilah dengan kerudung agar lebih sesuai dengan prilakumu.”

Sang Putri pun pergi dari ruangan, meninggalkan kemenakannya yang bergeming dan wangi minyak kasturi yang begitu menyengat.

*

Keesokan harinya Raja Muda memanggil adiknya Raja Bongsu serta dua penasehatnya. Yang seorang bernama Tuanku Ahmad dan yang kedua bernama Tuanku Mirza. Keduanya ialah sahabat karib dari Raja Muda sejak kecil. Tuanku Ahmad adalah putra dari Raja Lela Setia, Ulee Balang di Glumpang. Sedangkan Tuanku Mirza adalah putra Tun Indra Bijaya, Syahbandar Besar Kutaraja.

Raja Muda menceritakan kegelisahannya akan Pancagah yang kian dekat dengan Sultan. Semula ia ragu apakah harus menceritakan tentang usulan adik perempuan ayahnya untuk memberontak kepada sahabat-sahabatnya itu atau tidak. Namun demikian akhirnya ia memutuskan untuk bercerita. Betapa terkejutnya Tuanku Mirza dan Tuanku Ahmad. Tetapi dengan cepat keduanya dapat menguasai diri, dan dengan seksama mendengarkan cerita sang Raja Muda.

“Duli Tuanku, apakah Tuanku yakin hendak melakukan apa yang menjadi rencana Tuanku untuk menyerang Darud Dunia?” Tanya Tuanku Ahmad hati-hati.

“Ampun Tuanku, tidakah Tuanku tahu bahwa penjaga Istana Darud Dunia itu jumlahnya 2000 orang lebih. Belum lagi Gajah Baginda yang jumlahnya ratusan ekor itu. Bagaimana Tuanku dapat menembus pertahanan yang begitu ketatnya?” Sambung Tuanku Mirza.

“Itulah yang menjadi pikiranku semenjak kemarin. Rasanya tidak sampai hati aku melakukannya.”

“Tetapi harap abangta raja ingat, bahwa memang kitalah yang pantas untuk meneruskan tahta kerajaan. Lagi pula dulu abangta Mansur memberikan tahta kepada ayah kita, karena ayah kita lebih tua dan berpengalaman daripadanya. Sekarang, jika kita biarkan Pancagah naik tahta, bukankah ia masih terlalu muda lagi tidak ada pengalamannya?” Raja Bongsu diam sejenak. “Aku mengkhawatirkan kelangsungan kerajaan kita, bila dipimpin oleh orang muda belia itu.”

Ketiga pria bangsawan itu menganguk-angguk mendengar penjelasan Raja Bongsu. Bagi mereka pertimbangan Raja Bongsu masuk akal.

“Selain itu abangta, para Orang Kaya menyegani kita. Jika kita mewarisi tahta, maka kerajaan akan stabil karena para Orang Kaya tak mungkin berulah. Tetapi jika anak muda macam Pancagah yang naik tahta? Aku yakin Orang Kaya tidak akan puas. Tidakkah kita khawatir jika mereka kembali ke posisi mereka pada masa lalu?” tambah Raja Bongsu.

“Apa yang dikatakan Paduka Raja Bongsu sangat masuk akal, Tuanku. Tetapi tetap menurut hamba, menyerang Darud Dunya bukan tindakan yang bijaksana.” Kata Tuanku Ahmad.

“Tunggu dulu Tuan, setelah hamba pikir-pikir, Raja Bongsu sangatlah benar soal para Orang Kaya. Mereka pasti akan mendukung Tuanku ketimbang Pancagah.” Ujar Mirza cepat.

“Dari mana kau tau?” Raja Muda bertanya, rautnya bersemangat.

“Ampun Tuanku, hamba pernah mendengar ayah hamba berbicara dengan beberapa Orang Kaya secara sembunyi-sembunyi. Mereka membahas mengenai Pancagah. Mereka khawatir jika Pancagah naik tahta sebelum dewasa, dia tidak akan mampu menguasai para Orang Kaya. Persis seperti apa yang ditakutkan oleh Paduka Raja Bongsu.”

“Tapi Tuanku,” kata Ahmad belum selesai karena disuruh diam oleh Raja Muda.

Raja Muda bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah jendela, memandang ke Darud Dunya yang samar-samar terlihat dari seberang Sungai Aceh yang besar. Lama ia terdiam. Raja Bongsu, Tuanku Ahmad dan Tuanku Mirza juga terdiam. Menunggu apa yang hendak dikatakan putra Syah Alam ini.

“Aku perlu nasehat Banta Muda Seubrang.” Kata Raja Muda memecah keheningan. “Pengawal, panggilkan Banta Muda Seubrang. Katakan ada yang perlu aku bicarakan dengannya.”

Banta Muda Seubrang adalah guru Raja Muda. Darinya Raja Muda belajar seni berperang, ilmu pemerintahan bahkan sampai ilmu perbintangan. Banta Muda Seubrang sangatlah disegani. Konon Banta Muda Seubrang adalah orang yang teramat sakti. Perawakannya tinggi besar dan kulitnya hitam, kumis dan jenggotnya panjang sudah memutih. Ia selalu membawa tongkat kayu sederhana yang disebut orang Cogan Seri Hitam. Menurut cerita, tongkat itu mampu mematahkan seratus pedang sekaligus dalam sekali tebas.

Kurang lebih sepuluh menit berselang, Banta Muda tiba dihadapan Raja Muda. Raja Muda mempersilahkan gurunya duduk dan menyodorkan kepadanya tepak sirih dari emas, untuk gurunya makan.

“Tuanku Raja Muda, ada apakah Tuan memangilku pagi ini?” Tanya Banta Muda sambil meracik sirihnya.

“Tuan Guruku yang arif lagi bijaksana, sesungguhnya aku sedang resah dan gelisah. Ada permasalahan yang hendak aku ceritakan pada Tuan Guru.” Raja Muda menceritakan semuanya.

Banta Muda mendengarkan cerita Raja Muda sambil mengunyah sirihnya, dan sesekali meludah. Raja Muda menceritakan semuanya. Kekhawatirannya, nasehat Putri Raja keumala Cahya, pendapat adik dan kedua sahabatnya. Tak ada satu apa pun yang ditutupi dari gurunya itu. Setelah ia selesai, Banta Muda tidak langsung bicara.

“Anakku Raja Muda, sungguh apa yang akan kukatakan tak akan membuatmu tenang. Tetapi aku berharap kau mau mendengarkanku. Karena ini demi kebaikanmu dan juga kerajaanmu.”

Semua yang hadir terdiam, saling bertukar pandang. Lalu Banta Muda melanjutkan.

“Wahai Raja Muda, perlulah kau ketahui bahwa Pancagah yang bergelar Perkasa Alam itu ialah Raja di Raja yang berhak atas tahta kerajaan. Dialah pewaris dua mahkota. Kakek dari ayahnya Sultan Makota Alam yang perkasa, dan kakek dari ibunya Sultan Darul Kamal yang mulia yang sekarang menjadi Sultan Aceh ini. Bilamana ia bertahta, kedua kerajaan akan menjadi satu dan sungguh tiada tandingannya di muka dunia. Karena karunia Allah Ta’ala ia akan menjadi Sultan. Dan tidak ada satu apa pun yang dapat mengagalkannya.” Jelas Banta Muda.

Raja Muda Nampak terpukul mendengar perkataan gurunya.

“Tetapi Tuan Guru, bukankah aku juga berhak atas tahta itu? Aku putra Syah Alam. Lagi pula aku jauh lebih pantas menjadi Sultan ketimbang putra kakakku itu? Aku lebih dewasa, berpengalaman dan berpengaruh.” Raja Muda berusaha meyakinkan Banta Muda.

“Anakku Raja Muda, memang betul yang kau katakan itu. Tetapi kehendak Allah ta’ala siapa yang dapat ingkari?”

Semuanya terdiam. Air muka Raja Muda berubah sedih.

“Ampun Tuanku Banta Muda, adakah yang dapat kami perbuat untuk dapat merajakan tuan kami?” Tanya Mirza dengan takut.

Banta Muda memandang anak murid kesayangannya itu. Hatinya ikut terenyuh melihat murid yang dianggapnya anak sendiri itu bersusah hati. Lalu ia berkata,

“Ketahuilah bahwa jika kalian melakukan apa yang kalian rencanakan, maka niscaya Raja Muda akan menjadi Sultan negeri ini. Namun, kuingatkan pada kalian, apa-apa yang kalian peroleh dengan cara yang salah, dengan cara itu pula kalian akan kehilangannya.”

Nasehat Banta Muda yang terakhir ini membuat hati Raja Muda cukup gembira.

“Tuan Guru yang mulia, apakah Tuan Guru merestui aku untuk menuntut apa yang telah menjadi hak ku?” Raja Muda memandang gurunya dengan wajah penuh harap.

Banta Muda tidak langsung menjawab. Demi menyenangkan hati muridnya ia mengangguk dan berkata,

“Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan semoga Allah senantiasa melindungi kita dari siksa api neraka.”

Kemudian Banta Muda beranjak dari tempat duduknya. Keempat orang yang ada disana bergantian menyembah sang Banta Muda dan ia pun pergi meninggalkan ruangan itu. Tanpa diketahui siapa pun, air mata mengalir membasahi pipi Banta Muda yang sudah keriput itu. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengurniakan kepadanya kemampuan untuk melihat apa yang belum terjadi. Dan pengelihatannya itu membuat ia berdo’a agar dirinya segera dipanggil pulang ke haribaanNya, agar tak perlu ia menyaksikan pertumpahan darah dalam Wangsa Darul Kamal yang agung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: